Dibalik Satu Rakaat Shalat
Shalat merupakan kewajiban
bagi umat islam. Didalam Al-Quran surat an-Nisaa ayat 103 dijelaskan bahwa : ”Maka apabila kamu telah
menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan
di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah
shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang
ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.
Shalat juga terdapat dalam
rukun islam di urutan ke 2 setelah syahadat. Sebagaimana dalam surat an-Nisaa
ayat 162, yang artinya : “…orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang
beriman kepada Allah dan hari kemudian…”. Dan dalam
surat luqman ayat 4 dijelaskan bahwa : “(yaitu)
orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan
adanya negeri akhirat”. Masih banyak lagi al-quran yang menjelaskan tentang
shalat.
Gerakan shalat
menunjukkan simbol alur kehidupan sejak baligh sampai akhirat. Gerakan shalat
juga berfungsi sebagai alat komunikasi dengan Allah. Selain itu kita tidak saja
sedang berdzikir dan berdoa kepada Allah, tapi juga sedang menyatu dengan
Al-Quran dan alam semesta.
Shalat juga bukan hanya
sekedar gerakan ritual manusia yang terpisah dari alam semesta. Sesungguhnya ia
mengikuti thawaf alam semesta yang setiap detiknya bertasbih memuji Allah Yang
Maha Esa. Saat itulah, manusia melakukan shalat bersama dengan bumi, bulan dan
matahari.
Shalat adalah sebuah garis orbit yang
harus kita ikuti alurnya. Dikutip dalam sumber : A. Faisoll, http://achmadfaisol.blogspot.in/2011/07/kita-sebenarnya-bisa-khusyu-tapi-enggan_15.html.
Kewajiban untuk berputar 17 kali dalam sehari semalam mengitari pusat orbit
atau melakukan 17 rakaat dalam shalat lima waktu setiap harinya.
Dalam gerakan shalat
sangat dinamis, mulai dari berdiri, rukuk, sujud, dan kemudian duduk dan diam.
Yang termasuk rukun-rukun shalat diantaranya ruku dan sujud. Sebagaimana dalam
al-quran surat al-hajj ayat 77, yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu,
sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat
kemenangan”.
Di dalam hadist
dijelaskan bahwa : “…kemudian rukuklah
sampai kamu tumanninah dalam rukuk, kemudian bangunlah dari rukuk sampai kamu
berdiri tegak lurus, kemudian bersujudlah sampai kamu tumanninah dalam sujudmu,
kemudian bangunlah dari sujud sampai kamu tumaninah dalam keadaan duduk,…”
(HR BUKHARI: 8/69, 169).
Ketika
Rasulullah melakukan shalat, waktu yang digunakan untuk rukuk tidak jauh
berbeda dengan saat beliau berdiri. Kemudian beliau bangkit dari rukuk
(itidal). Bangkit dari rukuk ini pun tidak jauh beda dengan rukuk. Kemudian
beliau sujud. Lama waktu bersujud hampir sama dengan lamanya rukuk dan berdiri
dari rukuk (itidal). Didalam standar rukuk, membungkukkan punggung sampai rata
dengan pantatnya (posisi 90 derajat siku-siku). Ketentuan ini bagi orang yang
shalatnya berdiri (bagi yang sehat).
Rukuk
yang sempurna bisa ditandai apabila kita meletakkan gelas dipunggung maka tidak
akan tumpah sebab antara kepala dan tulang belakang atau punggung sejajar.

Dalam
satu rakaat terdapat gerakan yang membentuk satu putaran sebesar 360 derajat.
Hal ini sama seperti satu putaran thawaf. Gerakan satu putaran tersebut adalah
: berdiri, rukuk, dan sujud.
Pada
saat berdiri tegak menghadap kiblat sudut yang dibentuk secara vertikal adalah
0 derajat, dilanjutkan pada saat rukuk dengan punggung yang lurus ke depan
membentuk sudut siku-siku sebesar 90 derajat, kemudian berdiri dari rukuk atau
sering disebut itidal kembali berdiri tegak juga membentuk 0 derajat,
dilanjutkan gerakan sujud dengan punggung menukik membentuk sudut 135 derajat
dari posisi tegak. Secara vertikal, duduk diantara 2 sujud membentuk 0 derajat,
dan sujud yang kedua juga membentuk 135 derajat secara vertikal, dengan keseluruhan
dapat dijumlahkan sebesar 360 derajat yang merupakan satu lingkaran penuh atau
satu putaran.

Dapat
dijumlahkan dari ketika kita berdiri, rukuk dan dua kali sujud dalam satu
rakaat.
Berdiri + rukuk + 2
kali sujud = 360 derajat
0 derajat + 90 derajat
+ 2 (135) = 360 derajad.
90 derajat + 270
derajat = 360 derajat
360 derajat = 360 derajat

Dalam setahun seorang
muslim akan mengulang-ulang putaran tadi sebanyak 6205 kali, dan ini artinya
dalam setahun seorang yang mengerjakan shalat menyimpan energi potensial yang
luar biasa.
Ibnu
Mas’ud ra meriwayatkan : bahwa nabi SAW bersabda : jika kamu rukuk dan membaca subhana rabbiyal’adhim tiga
kali, maka telah sempurna rukuk mu, dan itu adalah jumlah minimal. Dan jika
sujud lalu membaca dalam sujudnya : subhana rabbiyal’ala tiga kali maka telah
sempurna sujudnya, dan itu adalah jumlah minimal. (hadits Mursal, Tuhfatul
Muhtaz 1/301, sunan Tirmizi 261, sunan Abu Dawud 886, sunan Baihaqi 2/76).
Hadits ini terkenal dikalangan ulama
Fiqh sebagai dalil untuk menyimpulkan bahwa jumlah minimal kesempurnaan rukuk
dan sujud adalah 3 kali bacaan sujud adalah 3 kali bacaan tasbih, terlebih ada
kalimat itu di teks haditsnya. Tidak ada yang menyimpulkannya sebagai batasan
maksimal. Oleh karenanyaboleh dibaca lebih dari 3 kali bahkan lebih utama untuk
mengisi sujud yang lama seperti sujudnya nabi SAW yang sepanjang berdirinya.
Jika
membaca tasbih lebih dari 3 kali hendaknya dalam jumlah ganjil. Bisa 5, 7, 9,
atau lebih. Minimal bacaan adalah satu kali. Semakin banyak bacaan semakin
banyak pahala.
Banyak yang mengartikan
matematika itu menakutkan dan terkesan kaku serta ekstrim saja. Hanya bisa
serius dalam mengerjakan soal-soal dan hanya tahu benar atau salahnya saja.
Padahal, di dalam matematika bisa dimaknai dalam gerak gerik kehidupan kita. Misalnya
seperti shalat, kita harus mengerjakan shalat dengan benar seperti rukuk dengan
tumaninah dan harus membentuk siku-siku. Siku-siku disana termasuk salah satu
bahasa matematika. Penjelasan di atas merupakan bukti bahwa ada banyak
aktivitas yang berhubungan dengan matematika yang tidak pernah kita sadari.
DAFTAR PUSTAKA
Faisol,
A. (2011). Kita Sebenarnya Bisa Khusyu’ Tapi Enggan (7 of 7), [Online].
Tersedia : http://achmadfaisol.blogspot.in/2011/07/kita-sebenarnya-bisa-khusyu-tapi-enggan_15.html
Krisyasemesta.
(2009). Menyelami Shalat, Dari Syariat Menuju Hakekat I, [Online]. Tersedia : http://kriyasemestafoundation.blogspot.in/2009/10/menyelami-shalat-dari-syariat
menuju.html
Muadz,
M. M. (2013). Kita Menyatu Dalam Shalat, [Online]. Tersedia : http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/12/30mylls7-kita-menyatu-dalam-shalat
Rahmat E.(2013). Rahasia sehat dibalik
Ruku, [online]. Tersedia : http: //kabarsehatislami.blogspot.com/2013/03/rahasia-sehat-di-balik-ruku.html?m=1