Jumat, 10 Juli 2015


Dibalik Satu Rakaat Shalat

Shalat merupakan kewajiban bagi umat islam. Didalam Al-Quran surat an-Nisaa ayat 103 dijelaskan bahwa : Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.
Shalat juga terdapat dalam rukun islam di urutan ke 2 setelah syahadat. Sebagaimana dalam surat an-Nisaa ayat 162, yang artinya : “…orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian…”. Dan dalam surat luqman ayat 4 dijelaskan bahwa : “(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat”. Masih banyak lagi al-quran yang menjelaskan tentang shalat.
Gerakan shalat menunjukkan simbol alur kehidupan sejak baligh sampai akhirat. Gerakan shalat juga berfungsi sebagai alat komunikasi dengan Allah. Selain itu kita tidak saja sedang berdzikir dan berdoa kepada Allah, tapi juga sedang menyatu dengan Al-Quran dan alam semesta.
Shalat juga bukan hanya sekedar gerakan ritual manusia yang terpisah dari alam semesta. Sesungguhnya ia mengikuti thawaf alam semesta yang setiap detiknya bertasbih memuji Allah Yang Maha Esa. Saat itulah, manusia melakukan shalat bersama dengan bumi, bulan dan matahari.
Shalat adalah sebuah garis orbit yang harus kita ikuti alurnya. Dikutip dalam sumber : A. Faisoll, http://achmadfaisol.blogspot.in/2011/07/kita-sebenarnya-bisa-khusyu-tapi-enggan_15.html. Kewajiban untuk berputar 17 kali dalam sehari semalam mengitari pusat orbit atau melakukan 17 rakaat dalam shalat lima waktu setiap harinya.
Dalam gerakan shalat sangat dinamis, mulai dari berdiri, rukuk, sujud, dan kemudian duduk dan diam. Yang termasuk rukun-rukun shalat diantaranya ruku dan sujud. Sebagaimana dalam al-quran surat al-hajj ayat 77, yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan”.
Di dalam hadist dijelaskan bahwa : “…kemudian rukuklah sampai kamu tumanninah dalam rukuk, kemudian bangunlah dari rukuk sampai kamu berdiri tegak lurus, kemudian bersujudlah sampai kamu tumanninah dalam sujudmu, kemudian bangunlah dari sujud sampai kamu tumaninah dalam keadaan duduk,…” (HR BUKHARI: 8/69, 169).
Ketika Rasulullah melakukan shalat, waktu yang digunakan untuk rukuk tidak jauh berbeda dengan saat beliau berdiri. Kemudian beliau bangkit dari rukuk (itidal). Bangkit dari rukuk ini pun tidak jauh beda dengan rukuk. Kemudian beliau sujud. Lama waktu bersujud hampir sama dengan lamanya rukuk dan berdiri dari rukuk (itidal). Didalam standar rukuk, membungkukkan punggung sampai rata dengan pantatnya (posisi 90 derajat siku-siku). Ketentuan ini bagi orang yang shalatnya berdiri (bagi yang sehat).
Rukuk yang sempurna bisa ditandai apabila kita meletakkan gelas dipunggung maka tidak akan tumpah sebab antara kepala dan tulang belakang atau punggung sejajar.
Dalam satu rakaat terdapat gerakan yang membentuk satu putaran sebesar 360 derajat. Hal ini sama seperti satu putaran thawaf. Gerakan satu putaran tersebut adalah : berdiri, rukuk, dan sujud.
Pada saat berdiri tegak menghadap kiblat sudut yang dibentuk secara vertikal adalah 0 derajat, dilanjutkan pada saat rukuk dengan punggung yang lurus ke depan membentuk sudut siku-siku sebesar 90 derajat, kemudian berdiri dari rukuk atau sering disebut itidal kembali berdiri tegak juga membentuk 0 derajat, dilanjutkan gerakan sujud dengan punggung menukik membentuk sudut 135 derajat dari posisi tegak. Secara vertikal, duduk diantara 2 sujud membentuk 0 derajat, dan sujud yang kedua juga membentuk 135 derajat secara vertikal, dengan keseluruhan dapat dijumlahkan sebesar 360 derajat yang merupakan satu lingkaran penuh atau satu putaran.
Dapat dijumlahkan dari ketika kita berdiri, rukuk dan dua kali sujud dalam satu rakaat.
Berdiri + rukuk + 2 kali sujud = 360 derajat
0 derajat + 90 derajat + 2 (135) = 360 derajad.
90 derajat + 270 derajat = 360 derajat
360 derajat = 360 derajat
Dalam setahun seorang muslim akan mengulang-ulang putaran tadi sebanyak 6205 kali, dan ini artinya dalam setahun seorang yang mengerjakan shalat menyimpan energi potensial yang luar biasa.
Ibnu Mas’ud ra meriwayatkan : bahwa nabi SAW bersabda : jika kamu rukuk dan membaca subhana rabbiyal’adhim tiga kali, maka telah sempurna rukuk mu, dan itu adalah jumlah minimal. Dan jika sujud lalu membaca dalam sujudnya : subhana rabbiyal’ala tiga kali maka telah sempurna sujudnya, dan itu adalah jumlah minimal. (hadits Mursal, Tuhfatul Muhtaz 1/301, sunan Tirmizi 261, sunan Abu Dawud 886, sunan Baihaqi 2/76).
Hadits ini terkenal dikalangan ulama Fiqh sebagai dalil untuk menyimpulkan bahwa jumlah minimal kesempurnaan rukuk dan sujud adalah 3 kali bacaan sujud adalah 3 kali bacaan tasbih, terlebih ada kalimat itu di teks haditsnya. Tidak ada yang menyimpulkannya sebagai batasan maksimal. Oleh karenanyaboleh dibaca lebih dari 3 kali bahkan lebih utama untuk mengisi sujud yang lama seperti sujudnya nabi SAW yang sepanjang berdirinya.
            Jika membaca tasbih lebih dari 3 kali hendaknya dalam jumlah ganjil. Bisa 5, 7, 9, atau lebih. Minimal bacaan adalah satu kali. Semakin banyak bacaan semakin banyak pahala.
Banyak yang mengartikan matematika itu menakutkan dan terkesan kaku serta ekstrim saja. Hanya bisa serius dalam mengerjakan soal-soal dan hanya tahu benar atau salahnya saja. Padahal, di dalam matematika bisa dimaknai dalam gerak gerik kehidupan kita. Misalnya seperti shalat, kita harus mengerjakan shalat dengan benar seperti rukuk dengan tumaninah dan harus membentuk siku-siku. Siku-siku disana termasuk salah satu bahasa matematika. Penjelasan di atas merupakan bukti bahwa ada banyak aktivitas yang berhubungan dengan matematika yang tidak pernah kita sadari.
 
DAFTAR PUSTAKA
Faisol, A. (2011). Kita Sebenarnya Bisa Khusyu’ Tapi Enggan (7 of 7), [Online]. Tersedia : http://achmadfaisol.blogspot.in/2011/07/kita-sebenarnya-bisa-khusyu-tapi-enggan_15.html

Krisyasemesta. (2009). Menyelami Shalat, Dari Syariat Menuju Hakekat I, [Online]. Tersedia : http://kriyasemestafoundation.blogspot.in/2009/10/menyelami-shalat-dari-syariat menuju.html

Muadz, M. M. (2013). Kita Menyatu Dalam Shalat, [Online]. Tersedia : http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/12/30mylls7-kita-menyatu-dalam-shalat

Rahmat E.(2013). Rahasia sehat dibalik Ruku, [online]. Tersedia : http: //kabarsehatislami.blogspot.com/2013/03/rahasia­-sehat-di-balik-ruku.html?m=1

TN.(2010). Tanya jawab.[online]. Tersedia http://islamdirektori.com/?opendir=detail_tanya&id=44